Laki-laki Bicara Perempuan
Perbedaan laki-laki dan perempuan masih dalam perdebatan baik dari subtansi maupun kejadian peran dalam masyarakat, perbedaan secara genetik dan biologis. Perbedaan secara biologis akan menjadi penentu di dalam kehidupan sosial-budaya, karena secara budaya alat jenis kelamin menjadi faktor paling penting dalam melegitimasi atribut jender seseorang. Begitu atribut jenis kelamin mulai terlihat maka pada saat itu juga kontruksi budaya mulai terbentuk, sehingga atribut senantiasa di gunakan untuk menentukan peran dan fungsinya dalam status masyarakat.
Cerita ini secara terang melegitimasi patriarkhisme bahkan melegitimasi kebencian kepada perempuan, mengunggulkan dominasi laki-laki dan mewajibkan perempuan untuk patuh kepada laki-laki.
Cerita ini secara terang melegitimasi patriarkhisme bahkan melegitimasi kebencian kepada perempuan, mengunggulkan dominasi laki-laki dan mewajibkan perempuan untuk patuh kepada laki-laki.
Agama ini dibangun di atas landasan Tauhid, Ia adalah prinsip paling fundanmental dari seluruh ajaran-ajarannya. Tauhid meniscayakan sebuah pandangan dunia bahwa umat manusia di manapun adalah hambaTuhan yang setara, dan hanya kepada-Nya sajalah mereka harus mengabdi. Manusia adalah ciptaannya yang paling dihormati di antara ciptaannya yang lain dan Dia menghargai manusia berdasarkan perbuatan dan niat baiknya, bukan berdasarkan jenis kelamin maupun
identitas-identitas yang lain. Kehadiran Islam memang sengaja diarahkan bagi upaya-upaya pembebasan perempuan dari
struktur sosial yang menindas mereka seraya memberikan hak-hak
dasar sebagaimana yang diberikan kepada laki-laki dalam berbagai aspek kehidupan.
Sinergi dari dua karakteristik
fisik yang berbeda dari perempuan dan laki-laki itu justru akan melahirkan kehidupan harmoni yang saling mendukung satu sama lain, ibarat tangan kiri dan kanan yang bergantian menjuntai ke depan dan ke belakang dalam berjalan, sehingga perjalanan akan sampai kepada satu tujuan, tanpa diartikan bahwa tangan kanan lebih penting dari tangan kiri.
identitas-identitas yang lain. Kehadiran Islam memang sengaja diarahkan bagi upaya-upaya pembebasan perempuan dari
struktur sosial yang menindas mereka seraya memberikan hak-hak
dasar sebagaimana yang diberikan kepada laki-laki dalam berbagai aspek kehidupan.
Sinergi dari dua karakteristik
fisik yang berbeda dari perempuan dan laki-laki itu justru akan melahirkan kehidupan harmoni yang saling mendukung satu sama lain, ibarat tangan kiri dan kanan yang bergantian menjuntai ke depan dan ke belakang dalam berjalan, sehingga perjalanan akan sampai kepada satu tujuan, tanpa diartikan bahwa tangan kanan lebih penting dari tangan kiri.
Ciri fisik lain yang membedakan antara perempuan dengan laki-laki adalah fakta bahwa perempuan mengalami haid, dapat hamil,
melahirkan, dan menyusui dengan air susu ibu (ASI). Meskipun
demikian, tidak semua perempuan mengalami haidh, dapat hamil,
melahirkan, dan menyusui. Oleh karena itu, hamil, melahirkan dan
menyusui bukanlah tugas perempuan, melainkan potensi yang
dimiliki oleh sejumlah perempuan, sementara sejumlah perempuan
lain yang tidak memiliki potensi tersebut tetap dipandang sebagai
perempuan yang “normal’ .
Dalam area kognitif, perempuan umumnya lebih ekspresif dan
secara nonverbal lebih sensitif, sedangkan laki-laki cenderung
menyelesaikan tugas-tugas visual dan spasial yang lebih baik. Perempuan umumnya lebih bersedia mengasuh dan merawat anak-anak, namun tidak sedikit laki-laki yang mencintai dan merawat keluarganya. Perempuan dan laki-laki mengembangkan sejumlah tendensi feminim dan maskulin lain, tergantung pada lingkungan dan keadaan masyarakat sesungguhnya tidak lain hanyalah produk budaya (sosio-kultural).
Demikian pula, masa depan
perempuan hakikatnya sebagai masa depan bangsa. Oleh karena itu perjuangan ini hendaknya tidak disalah-artikan sebagai perjuangan
untuk membalas dendam kepada kaum laki-laki, melainkan sebuah
perjuangan untuk menciptakan suatu sistem hubungan laki-laki dan
perempuan yang lebih adil,ada beberapa agenda yang menjadi tugas bersama untuk mengakhiri sistem yang tidak adil, yakni melawan hegemoni yang merendahkan perempuan dengan melakukan dekonstruksi terhadapat tafsiranagama yang merendahkan kaum perempuan dan perlu kajian-kajian kritis untuk mengakhiri bias dan dominasi laki-laki dalam penafsiran agama.
melahirkan, dan menyusui dengan air susu ibu (ASI). Meskipun
demikian, tidak semua perempuan mengalami haidh, dapat hamil,
melahirkan, dan menyusui. Oleh karena itu, hamil, melahirkan dan
menyusui bukanlah tugas perempuan, melainkan potensi yang
dimiliki oleh sejumlah perempuan, sementara sejumlah perempuan
lain yang tidak memiliki potensi tersebut tetap dipandang sebagai
perempuan yang “normal’ .
Dalam area kognitif, perempuan umumnya lebih ekspresif dan
secara nonverbal lebih sensitif, sedangkan laki-laki cenderung
menyelesaikan tugas-tugas visual dan spasial yang lebih baik. Perempuan umumnya lebih bersedia mengasuh dan merawat anak-anak, namun tidak sedikit laki-laki yang mencintai dan merawat keluarganya. Perempuan dan laki-laki mengembangkan sejumlah tendensi feminim dan maskulin lain, tergantung pada lingkungan dan keadaan masyarakat sesungguhnya tidak lain hanyalah produk budaya (sosio-kultural).
Demikian pula, masa depan
perempuan hakikatnya sebagai masa depan bangsa. Oleh karena itu perjuangan ini hendaknya tidak disalah-artikan sebagai perjuangan
untuk membalas dendam kepada kaum laki-laki, melainkan sebuah
perjuangan untuk menciptakan suatu sistem hubungan laki-laki dan
perempuan yang lebih adil,ada beberapa agenda yang menjadi tugas bersama untuk mengakhiri sistem yang tidak adil, yakni melawan hegemoni yang merendahkan perempuan dengan melakukan dekonstruksi terhadapat tafsiranagama yang merendahkan kaum perempuan dan perlu kajian-kajian kritis untuk mengakhiri bias dan dominasi laki-laki dalam penafsiran agama.

Komentar
Posting Komentar