Menggugat Negara Dengan Perlawanan


   
   Munculnya negara tentu mempunyai visi yakni menyelamatkan (mensejahterakan) dari penjajah itulah yang di katakan kemerdekaan sehingga salah satu nahkoda pertama (Soekarno) mempunyai visinya ekonomi sejatera berjalannya waktu tali estavet di ganti yang di nahkodai oleh rezim otoriter (Soeharto) dan mempunyai visi tida jauh berbeda dengan sebelum akan tetapi dimasa itu merupakan peristiwa yang dahsat dan yang menjadi sejarah para pemuda[mahasiswa] untuk melengserkan rezim otoriter[Soeharto], dari situlah muncul kebebasan berekspresi bersama en the geng lainnya.Tetapi realitas hari ini berbeda dengan apa yang sudah di perjuangkan untuk memasuki Demokrasi (kebebasan) akan tetapi keseharian kita seolah-olah menjadi tugasnya negara semisal berpakayan karena harga dari pakayan sudah di tentukan oleh pengusaha [yang bermodal] bukan atas dasar kesepakatan bersama apakah negara hanya para pemilik modal,  tampa kita sadari negara sudah menjajah menggunakan gaya baru yakni menjajah bangsa sendiri.
Negara hanya sebuah lembaga (koperasi) karena masyarakat (warga negara) yang memfasilitasi negara sehingga kita kenal dengan adanya alatnya negara (militer) dan (media) yang tugasnya menjaga akan tetapi yang hari ini berada, Militer untuk menakutkan masyarakat dan media untuk mendesain bahwasanya negara sedang baik-baik saja.
persoalan semacam ini bukan berarti menjadi perdepatan apa lagi kita sebagai pemuda[mahasiswa] justru ini menjadi refleksi kita bersama sebagai bentuk rasa sukur Sesuatu yang sudah diwariskan para pejuang yang berani berjuang merebutkan kemerdekaan, Karena itu merupakan harta yang istimewa dan bisa kita wariskan kepada generasi setelah kami.
  Sehingga yang menjadi penting bagi kita tentunya kemerdekaan berfikir di mana menjadi senjata untuk menghadapi situasi yang terjadi hari ini, untuk melahirkan pembaharuan sehingga perlawanan merupakan bentuk kepedulian
 24-26 September 2019 bertepatan dengan jam 08.00 wib seribuan Mahasiswa (pemuda) dan berbagai elemen lainnya hadir menduduki gedung DPRD untuk merespon kebijakan pemerintah dan pada saat itulah suasana di Indonesia begitu panas (genting) yang di lakukan oleh ribuan mahasiswa dan elemen lainnya.
Dan itu Fardu ain hukumnya karena menjadi seorang pemuda harus peka terhadap isu-isu atau kebijakan pemerintah sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat dan pemerintah karena pemuda juga merupakan sebagian agen of control, justru kejadian semacam itu harus mengapresiasinya bukan mengintimidasi karena kehadiran merekalah menjadi bahan refleksi bersama khususnya pada pemerintah bahwasanya bangsa sedang mengalami keterpurukan (sakit) sehingga dari pemerintah-masyarakat harus lebih jelih (serius) untuk mengurusi bangsa ini.
Dan gerakan perlawanan yang di lakukan teman pemuda yang berani membuat percikan api dan tetap komitmen dengan satu tujuan.

Terima kasih
Pasuruan 29 September 2019

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemuda Bersumpah

Kenapa Harus Rindu

Laki-laki Bicara Perempuan